Tinju Anak Menjadi Binsis Gelap di Thailand

Share

Bisnis tinju anak Thailand yang digerakkan oleh perjudian sering dikritik karena dianggap kejam. Tapi bbagi banyak keluarga miskin, Muay Thai adalah satu-satunya harapan. Terlebih untuk bocah yatim piatu di kamp Phuwana. Tradisi tinju anak di Thailand banyak mengundang kritik dari wisatawan mancanegara atau aktivis Hak Azasi Manusia. Mereka mengecam praktik tersebut karena bukan hanya membahayakan nyawa bocah, tapi juga mempromosikan kekerasan sejak usia dini. Faktanya industri tinju anak di Thailand banyak berpusar pada praktik perjudian.

Harapan Terakhir

Bagi banyak keluarga miskin di Thailand, Muay Thai adalah satu-satunya jalan keluar dari jerat kemiskinan dan tinju anak telah menjadi industri kecil di Isaan, kawasan paling miskin di utara negeri gajah tersebut. Dalam 1 pertandingan, seorang bocah bisa memperoleh uang yang sama banyaknya seperti seorang petani dalam setahun.

Penjudi yang bertaruh uang dalam pertandingan Muay Thai biasanya mengumpulkan informasi mengenai latar belakang seorang petarung, termasuk kondisi psikologis. Tiak heran bila sebagian penjudi adalah orangtua yang menggiring anaknya sendiri buat bertarung di ring tinju. Praktik tersebut sedemikian menguntungkan sehingga telah menjadi fenomena tersendiri di kawasan pinggiran Thailand.

Pergi ke Lumphini adalah sebuah mimpi buat mereka, yang merupakan salah satu kawasan paling gemerlap di Bangkok, kawasan itu adalah Mekkah buat petinju Muay Thai. Disanalah penjudi berkocek tebal berkumpul dan ribuan pecinta tinju bersorak sorai di balik kamera televisi. Setiap kemenangan membawa bocah di kamp Phuawa selangkah lebih dekat menuju karir profesional dengan pendapatan sampai 40.000 Dollar AS per tahun.

Jalan Terjal Anak Yatim dari Phuwana

Buat anak yatim piatu di Kamp Phuwana ini, Muay Thai adalah satu-satunya jalan untuk mendatangkan uang dan meniti masa depan yang lebih baik. Setiap bocah memimpikan juluran tangan promoter dan karir mentereng di Bangkok. Petinju Muay Thai adalah bintang di Thailand dan kebanyakan datang dari Isaan.

Namun jalan menuju Lumphini terjal dan berbatu. Untuk level junior setiap pemenang hanya mendapat 500 Baht atau sekitar Rp. 200 ribu per pertandingan. Agar bisa mencapai kompetisi elit, bocah petinju harus bergantung pada kemampuan finansial pelatih. Uang dalam bisnis tinju anak di Thailand datang dari perjudian. Satu kekalahan saja bisa menghancurkan karir seorang petinju.

Pendidikan Bukan Prioritas

Kamp Phuawana hanya menerima anak yatim piatu yang ingin mengadu nasib dijalur tinju. Bocah-bocah tersebut berusia antara 7 sampai 18 tahun. Setelah berolahraga pada pagi hari, mereka biasanya berangkat sekolah hingga petang dan lalu kembali berlatih disana sampai larut malam.

Menurut lembaga penelitian tinju anak Thailand (CSIP), pada tahun 2016 sebanyak 10.000 bocah di bawah usia 15 tahun terdaftar sebagai atlit Muay Thai di otoritas tinju nasional. Setiap tahun sedikitnya 420 bocah mendaftarkan diri antara 2007 dan 2015. CSIP berulangkali menyerukan supaya anak dibawah 9 tahun dilarang bertanding. Tapi seruan tersebut sering tak berguna.

Ahmad Muhajir

Keturunan Nabi

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *